THE TWINS BAND

Sunday, January 26, 2014

GARUDA KEMBAR


Pengarang : afib subarki


Suasana pagi yang cerah, di atas sana tampak sang surya mulai menampakkan dirinya untuk memberikan sinar dalam kehidupan, padang rumput tumbuh ilalang seolah cat yang berwarna hijau muda mengkilap, tampak hewan-hewan kecil berlarian ke sana kemari, menambah indah dan riangnya dunia hari ini. Tidak perlu bertanya siapakah pemilik semua ini, karena hanya satu jawabanya, dialah Allah sang pencipta langit dan bumi. Bersyukurlah kepadanya, agar hidup menjadi tenang dalam kedamaian abadi.
Gambar Lukisan Alam Terindah
 Di tengah  padang rumput yang amat hijau itu terlihatlah sebuah pohon yang tumbuh besar tanpa takut tumbang diterpa angin. Inilah pohon mahoni yang selalu menjadi tempat bersandar seorang remaja desa itu
“Indah sekali suasana pagi ini.” ujarnya sambil mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena yang berada di saku kanan celana jeans hitam yang dipakainya itu. Remaja yang satu ini memang senang dibidang menulis, ia menganggap menulis adalah suatu hal yang membuatnya merasa hidup.
     “Jadi kepengen di sini terus!." gumamnya dalam hati sambil mengarahkan sebuah pena berwarna merah itu ke buku untuk memulai merangkai kata. Dari kejauan sana tampak seorang teman memanggil  sambil melangkahkan kakinya menuju tempat ia bersandar.
''Rahman! rahman! ayo kita pulang. Aku sudah tidak  kuasa lagi menahan lapar ini.”
 ''Ehem, seorang pujangga mulai menulis nih.” ujar remaja yang menghampirinya itu. Anak remaja ini ialah saudara kembar si rahman.
    “Ah! kamu ini salman. Apa kamu tidak tahu aku lagi menikmati indahnya dunia pagi ini. Kamu lapar atau kehausan sih?” Rahman menggoda saudaranya itu.
“Ya allah Man! tega sekali kamu. Ayo kita pulang, siapa tahu ibuk masak enak di rumah.” balasnya dengan wajah yang sedikit lesuh.
    Akhirnya Rahman beranjak dari tempat duduk yang begitu nyaman itu, seolah tidak ingin berlalu dari  kedamaian yang sedang dirasakanya saat itu. Dalam perjalanan pulang mereka berdua terlibat percakapan kecil.
    "Salman!” Ujarnya Rahman.
    “Entah mengapa aku ingin keluar dari semua kedamaian ini.”
      “Maksudmu?” Tanya salman tiba-tiba dengan penuh keheranan.
    " Maksud aku, setelah tamat SMA rasanya aku ingin sekali pergi berpetualang mencari ilmu di luar tempat kita dilahirkan ini.”
"Kamu tahukan betapa jauhnya Bima dengan Yogyakarta?. Di sanalah aku ingin menuntut ilmu. Meskipun aku sadar orang tua kita mungkin tidak akan mampu membiayai jika aku harus kuliah di sana”
    ''Hmmmm.” Salman bergumam sambil menghela nafas dalam-dalam.
    “Akupun memiliki keinginan yang sama sepertimu, cuman bukan di jogja aku ingin melangkah. Tapi di Surabaya, yang kata orang sih kota pahlawan gitu.” Ujar salman sambil merangkul saudaranya itu.
   Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah. Hari pun sudah mulai menunjukan sosok  yang berada tepat di bawah tanah yang mereka injak itu.
        ‘’Eh, aku makan dulu ya. Nampaknya  masakan ibu mantap nih.” ujar salman
‘’Iya ..iaa…makan sudah kamu tu, aku mau istirahat dulu, capek..! balas rahman dengan  wajah yang masih terbungkus lelah.
“Ibu..ibu! nanti kasitahu si salman  untuk sisain makanan buat Rahman ya, soalnya Man mau tidur dulu.” Serunya sambil mengarahkan langkah menuju kamar.
‘’Ia nak, dan jangan lupa bangun untuk sholat, supaya jiwamu tenang. Usai mengatakan hal itu, sang ibu membalikan badanya menuju dapur.

   
    Malam mulai memperlihatkan betapa indahnya gemerlap bintang di angkasa luar, memberikan ribuan cayaha bagi dunia yang amat tentram dalam kesunyian, dewi malam pun terlihat sedang purnama. Cahayanya yang begitu terang menambah berkilaunya malam itu. Hati siapa yang tidak tersentuh melihat kekuasaan sang ilahi, menyebut namanya saja sudah meneteskan air mata.

     Malam itu Salman dan Rahman sedang duduk termenung di depan rumah. Sambil menyaksikan keindahan malam itu.
       ‘’Tuhan ku!, jika duniamu ini memang penuh dengan karunia yang tak terbatas. Akankah engkau memberikanya untuk ku dalam bentuk ilmu?.” Ungkap rahman dengan penuh harap.
   Salman pun mengungkapkan isi hatinya.
  ‘’Ya allah. Berikanlah daku kemampuan yang dapat menolong diriku sendiri juga orang lain yang membutuhkan ku”
  " Aaamiiinnn.” Sambung Rahman melengkapi doa adiknya itu.
  '' Eh sal, coba kamu lukis bulan di atas sana..! kamu kan pandai dalam hal itu, siapa tahu hasilnya akan bagus ''
  ''Iya juga ya man..! baiklah aku ambil alat lukis ku dulu.” Balas Salman sambil beranjak dari tempat duduknya menuju pintu rumah  yang dibiarkan terbuka itu. Tidak lama kemudian Salman kembali dengan alat lukisnya. Jiwanya yang penuh semangat berkobar seperti jago merah yang mulai membakar dunia. Mulailah ia melukis sang dewi malam dengan tatapan lurus ke angkasa, seolah tidak ada beben yang harus ia pikul. Kedua anak remaja ini memanglah sangat hebat dalam berkarya, juga berbakti kepada kedua orang tua.
Tidak terasa malam sudah semakin larut, suara riuh penduduk kampungpun sudah tidak terdengar lagi di telinga.
         "Eh kita tidur yuk sudah malam nih”. Sahut rahman kepada adiknya.
  " Ok deh, aku juga sudah merasa kantuk ini.” Jawab Salman sambil merapikan peralatan lukisnya, kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah.

⃰⃰⃰   ⃰⃰⃰   ⃰⃰

 Tibalah akhir dari perjalanan mereka di bangku SMA. Kini saatnya mereka memulai kehidupan yang baru. Rahman yang berkeinginan melanjutkan sekolahnya di Jogja, sedangkan Salman berkeinginan melanjutkan sekolahnya di Surabaya. Keinginan kuat mereka seolah-olah berada dalam satu pikiran. Akan tetapi mereka sadar dengan keadaan orang tuanya yang mungkin tidak akan sanggup untuk membiayai kuliah mereka berdua, apalagi hidup di daerah yang amat jauh jaraknya itu.
   ''Sekarang kita berdua harus bagaimana?” Ujar Rahman sambil menundukan kepalanya yang seakan tak kuasa lagi untuk bertutur.
  "Sepertinya perjalanan hidup kita hanya sebatas sampai di sini.” balas salman sambil berdiri membalikan badan di hadapan saudaranya yang tengah tertunduk lesuh itu.
     ''Seandainya aku memiliki sayap. Ingin sekali rasanya aku terbang mengelilingi dunia ini, dan aka ku perlihatkan ke seluluh penjuru bumi dan isinya betapa besar keinginanku untuk menjadi orang yang berilmu.'' Ungkapr Rahman sambil mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke langit, seolah meyakinkan kepada tuhan akan keteguhan dalam hatinya .
    '' Dan seandainya aku memiliki seribu pasang kaki dan seribu pasang mata, akan ku cari ilmu itu. Bahkan sampai keakar-akar duniapun akan ku cari!. Begitulah ungkapan Salman yang menyambung perkataan saudaranya itu.
    Seperti itulah keinginan kedua saudara kembar itu kepada dunia. Keinginan mereka yang begitu besar, seakan  tak melihat seperti apa keadaan hidupnya yang bisa dikatakan golongan menengah ke bawa. Tuhan pun telah mengatakan, siapa yang bersungguh-sungguh dan memiliki kemauan yang tinggi, pastilah ada jalan baginya. Dan tidak memandang dari golongan mana dia berasal.”
   Ketika malam tiba. Rahman dan Salman menghampiri kedua orang tuanya yang tengah asik duduk di serambi depan rumah sambil menikmati secangkir teh dan sepiring kue. Mereka berdua berniat untuk mengungkapkan niat dalam hati yang kini menjadi cita-cita dan harapan mereka di masa depan. Setelah selesai mengungkapkan semua hal itu, ibu dan ayahnya pun berfikir keras dan akan berusaha untuk mendapatkan biaya agar anak-anak tersayangnya itu dapat meraih semua impianya, dengan mencari pinjaman ke sana kemari untuk biaya transportasi mereka untuk pergi kuliah di tempat yang mereka inginkan.
    ''Ayah..ibu, tiada kata yang pantas kami ucapkan selain terimakasih yang setulus-     tulusnya dari lubuk hati kami yang paling dalam.” Ujar kedua anak itu sambil bersimpu di hadapan kedua orang tuanya.
   ''Iya anak-anak ku.” jawab  sang ibu sambil meneteskan air mata, sambil  memandang lurus ke arah dua buah hatinya itu.  
   “Dengarlah wahai anak-anak ku, sesungguhnya tidak ada orang tua yang tidak pernah sayang kepada anaknya. Apapun akan kami lakukan untuk kalian, selagi tuhan memberikan kemampun dalam diri kami.”  Begitulah tutur sang ibu kepada anak-anak tercintanya itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
      Dengan segalah daya dan upayah akhirnya mereka diberikan rezeki oleh Allah swt. Pada hari yang telah ditentukan, maka berangkatlah mereka berdua meninggalkan kampung halaman yang penuh dengan kedamaian itu, menuju kota bima yang di mana menjadi tempat mereka memulai perjalanannya. Di sudut Terminal Dara kota bima itu terlihatlah isak tangis diantara oang tua dan anak, seolah tak sanggup menepis air mata perpisahan.
    ''Anak-anak ku, jadilah manusia yang berguna untuk orang lain yang membutuhkan kalian nanti. Dan jangan lupa ingat kepada sang Ilahi dalam setiap kalian melangkah.”  Itulah pesan terakhir dari sang ayah sambil memegang pundak mereka.
  Maka berangkatlah mereka setelah mencium tangan ayah dan ibundanya. Mereka berangkat dengan bus yang berbeda, yang satu ke Jogja dan satunya lagi menuju Surabaya.

   

Perjalanan hidup mereka penuh dengan perjuangan layaknya seorang pahlawan yang berjuang demi kedamaian dunia. inilah yang terjadi dalam kehidupan keduan insan yang tidak pernah gentar menghadapi derasanya badai kehidupan yang mungkin saja bisa  membawa merka kedalam jurang kegagalan. Rahman dan salman pun sudah menjalalni perkuliahan hampir dua tahun. Namun demikian, biaya untuk pembayaran SPP mereka sangatlah mahal, belum lagi biaya untuk kebutuhan sehari - harinya. Di sisi lain, orang tua mereka di kampung sudah tidak sanggup lagi untuk mencukupi dan membiayai semua kebutuhan mereka. 
 "Ya allah apa yang harus hamba lakukan?”  Ujar rahman sambil bersandar di dinding kamar kostnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apakah aku harus pulang ke tempat asalku dan meninggalkan semua ini?, tidak-tidak! kenapa aku harus menyerah.” Akhirnya ia memejamkan mata dan mulai untuk berpikir apa yang harus dilakukanya. Dan tiba-tiba ia terbangun dari lamunanya itu seraya berkata
    “ Yes itu dia!” Sontak ia bangun dari keterpurukkannya itu.
  “Akhirnya aku  dapat ide untuk semua ini.”  Ia melangkah menuju lemari yang ada di sebelah barat kamarnya itu, dan mengambil sebuah buku kecil dan pena.
   “Ini dia. Aku akan mulai menulis lagi, betapa bodohnya diriku, seorang mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia seperti aku ini seharusnya sadar dari awal.”
  “Baiklah, mungkin ini akan menjadi sumber penghasilanku”. Akhirnya ia mulai merangkai kata demi kata, sajak-sajak indah pun tertuang dalam semua karyanya. Semua karyanya itu ia kirim ke salah satu media cetak yang ada di Jogjakarta, dan alhamdulullah sebagian besar tulisannya dimuat. Berangkat dari situlah akhirnya Rahman dapat memperoleh biaya untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya kuliahnya.


Langit  Surabaya

Terlihat seorang mahasiswa yang sedang mencoret-coret tembok di tepian jalan raya dengan pikiran yang melayang entah ke mana di bawah teriknya matahari. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh seorang mahasiswa jurusan seni rupa ini.
   “Ya rabbi inilah aku, hambamu yang tidak sanggup lagi berbuat apa-apa. Hanya coretan tak bermakna ini yang dapat aku kerjakan. Hamba tidak ingin melihat mereka susah, hamba tidak ingin melihat mereka sebagai budak yang harus mencari sesuap nasi hanya untuk  menyenangkan hati hamba. Lebih baik hamba yang kalah daripada harus menyusahkan mereka”. Begitulah rintihan hati yang lahir dari dalam diri salman.

   

 Rahman dan Salaman hampir saja mengalami kegagalan dalam menempuh perkuliahan, dikarenakan orang tunanya tidak sanggup lagi membiayai kuliah mereka, karena semua harta benda yang dimiliki sudah habis terjual. Akan tetapi  rahman yang memiliki kemampuan di bidang menulis akhirnya mencoba mengembangkan ,dan alhamdulillah semua karya tulisnya disukai oleh semua semua kalangan yang telah membaca tulisanya itu, sehingga ia mendapatkan tawaran pekerjaan di salahasatu media yang ada di jogjakarta. dan akhirnya ia menyelesaiakan studinya sampai ke jenjang S2, yang sekarang bergelar Muhammad Rahman, M.Pd. dan sekarang sudah menjadi dosen di salah satu universitas yang ada di Yogyakarta.
 Sedangakan Salaman yang memiliki keahlian di bidang melukis, membuka usaha yang dimana menjadi tempat untuk orang yang mau belajar lukis, dan alhamdulillah usahanya itu berjalan dengan baik, sehingga ia dapat menyelesaiakan kuliahnya ke jenjang S2 pula seperti kakaknya rahman. Dan iapu ikut menjadi dosen di salah satu universitas yang ada di Surabaya. Mendengar kabar keberhasilan kedua anak-anaknya ibu Asmah dan pak Muhidin merasa bahagia, sehingga tak kuasa menahan air mata haru yang membanjiri pipinya.

No comments:

Post a Comment