Pengarang
: afib subarki
Suasana pagi yang cerah, di atas sana tampak
sang surya mulai menampakkan dirinya untuk memberikan sinar dalam kehidupan,
padang rumput tumbuh ilalang seolah cat yang berwarna hijau muda mengkilap,
tampak hewan-hewan kecil berlarian ke sana kemari, menambah indah dan riangnya
dunia hari ini. Tidak perlu bertanya siapakah pemilik semua ini, karena hanya
satu jawabanya, dialah Allah sang pencipta langit dan bumi. Bersyukurlah
kepadanya, agar hidup menjadi tenang dalam kedamaian abadi.
Di tengah padang rumput yang
amat hijau itu terlihatlah sebuah pohon yang tumbuh besar tanpa takut tumbang
diterpa angin. Inilah pohon mahoni yang selalu menjadi tempat bersandar seorang
remaja desa itu
“Indah sekali suasana pagi ini.” ujarnya sambil
mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena yang berada di saku kanan celana jeans
hitam yang dipakainya itu. Remaja yang satu ini memang senang dibidang menulis,
ia menganggap menulis adalah suatu hal yang membuatnya merasa hidup.
“Jadi
kepengen di sini terus!." gumamnya dalam hati sambil mengarahkan sebuah pena
berwarna merah itu ke buku untuk memulai merangkai kata. Dari kejauan sana
tampak seorang teman memanggil sambil melangkahkan kakinya menuju
tempat ia bersandar.
''Rahman! rahman! ayo kita pulang. Aku sudah
tidak kuasa lagi menahan lapar ini.”
''Ehem, seorang
pujangga mulai menulis nih.” ujar remaja yang menghampirinya itu. Anak remaja
ini ialah saudara kembar si rahman.
“Ah! kamu ini salman.
Apa kamu tidak tahu aku lagi menikmati indahnya dunia pagi ini. Kamu lapar atau
kehausan sih?” Rahman menggoda saudaranya itu.
“Ya allah Man! tega sekali kamu. Ayo kita
pulang, siapa tahu ibuk masak enak di rumah.” balasnya dengan wajah yang
sedikit lesuh.
Akhirnya Rahman beranjak
dari tempat duduk yang begitu nyaman itu, seolah tidak ingin berlalu
dari kedamaian yang sedang dirasakanya saat itu. Dalam perjalanan
pulang mereka berdua terlibat percakapan kecil.
"Salman!” Ujarnya Rahman.
“Entah
mengapa aku ingin keluar dari semua kedamaian ini.”
“Maksudmu?”
Tanya salman tiba-tiba dengan penuh keheranan.
" Maksud aku, setelah
tamat SMA rasanya aku ingin sekali pergi berpetualang mencari ilmu di luar
tempat kita dilahirkan ini.”
"Kamu tahukan betapa jauhnya Bima dengan Yogyakarta?.
Di sanalah aku ingin menuntut ilmu. Meskipun aku sadar orang tua kita mungkin
tidak akan mampu membiayai jika aku harus kuliah di sana”
''Hmmmm.” Salman bergumam
sambil menghela nafas dalam-dalam.
“Akupun
memiliki keinginan yang sama sepertimu, cuman bukan di jogja aku ingin
melangkah. Tapi di Surabaya, yang kata orang sih kota pahlawan gitu.” Ujar salman sambil merangkul saudaranya itu.
Tanpa terasa mereka sudah
sampai di depan rumah. Hari pun sudah mulai menunjukan sosok yang berada tepat di bawah tanah yang mereka
injak itu.
‘’Eh,
aku makan dulu ya. Nampaknya masakan ibu
mantap nih.” ujar salman
‘’Iya ..iaa…makan sudah kamu tu, aku mau
istirahat dulu, capek..! balas rahman dengan
wajah yang masih terbungkus lelah.
“Ibu..ibu! nanti kasitahu si salman untuk
sisain makanan buat Rahman ya, soalnya Man mau tidur dulu.” Serunya sambil
mengarahkan langkah menuju kamar.
‘’Ia nak, dan jangan lupa bangun untuk sholat,
supaya jiwamu tenang. Usai mengatakan hal itu, sang ibu membalikan badanya
menuju dapur.
⃰ ⃰ ⃰
Malam mulai memperlihatkan
betapa indahnya gemerlap bintang di angkasa luar, memberikan ribuan cayaha bagi
dunia yang amat tentram dalam kesunyian, dewi malam pun terlihat sedang
purnama. Cahayanya yang begitu terang menambah berkilaunya malam itu. Hati
siapa yang tidak tersentuh melihat kekuasaan sang ilahi, menyebut namanya saja
sudah meneteskan air mata.
Malam
itu Salman dan Rahman sedang duduk termenung di depan rumah. Sambil menyaksikan
keindahan malam itu.
‘’Tuhan ku!, jika duniamu ini
memang penuh dengan karunia yang tak terbatas. Akankah engkau memberikanya
untuk ku dalam bentuk ilmu?.” Ungkap rahman dengan penuh harap.
Salman pun mengungkapkan isi
hatinya.
‘’Ya allah. Berikanlah daku
kemampuan yang dapat menolong diriku sendiri juga orang lain yang membutuhkan
ku”
" Aaamiiinnn.” Sambung Rahman
melengkapi doa adiknya itu.
'' Eh sal, coba kamu lukis bulan di
atas sana..! kamu kan pandai dalam hal itu, siapa tahu hasilnya akan bagus ''
''Iya juga ya man..! baiklah aku ambil
alat lukis ku dulu.” Balas Salman sambil beranjak dari tempat duduknya menuju
pintu rumah yang dibiarkan terbuka itu. Tidak lama kemudian Salman
kembali dengan alat lukisnya. Jiwanya yang penuh semangat berkobar seperti jago
merah yang mulai membakar dunia. Mulailah ia melukis sang dewi malam dengan
tatapan lurus ke angkasa, seolah tidak ada beben yang harus ia pikul. Kedua anak remaja ini memanglah sangat hebat dalam berkarya, juga
berbakti kepada kedua orang tua.
Tidak terasa malam sudah semakin larut, suara
riuh penduduk kampungpun sudah tidak terdengar lagi di telinga.
"Eh kita tidur yuk sudah malam nih”. Sahut rahman
kepada adiknya.
" Ok deh, aku juga sudah merasa
kantuk ini.” Jawab Salman sambil merapikan peralatan lukisnya, kemudian mereka
berdua masuk ke dalam rumah.
⃰⃰⃰ ⃰⃰⃰ ⃰⃰
Tibalah
akhir dari perjalanan mereka di bangku SMA. Kini saatnya mereka memulai
kehidupan yang baru. Rahman yang berkeinginan melanjutkan sekolahnya di Jogja,
sedangkan Salman berkeinginan melanjutkan sekolahnya di Surabaya. Keinginan
kuat mereka seolah-olah berada dalam satu pikiran. Akan tetapi mereka sadar
dengan keadaan orang tuanya yang mungkin tidak akan sanggup untuk membiayai
kuliah mereka berdua, apalagi hidup di daerah yang amat jauh jaraknya itu.
''Sekarang kita berdua harus
bagaimana?” Ujar Rahman sambil menundukan kepalanya yang seakan tak kuasa lagi
untuk bertutur.
"Sepertinya perjalanan hidup kita
hanya sebatas sampai di sini.” balas salman sambil berdiri membalikan badan di
hadapan saudaranya yang tengah tertunduk lesuh itu.
''Seandainya aku
memiliki sayap. Ingin sekali rasanya aku terbang mengelilingi dunia ini, dan
aka ku perlihatkan ke seluluh penjuru bumi dan isinya betapa besar keinginanku
untuk menjadi orang yang berilmu.'' Ungkapr Rahman sambil mengangkat kepalanya
dan menatap lurus ke langit, seolah meyakinkan kepada tuhan akan keteguhan
dalam hatinya .
'' Dan seandainya aku
memiliki seribu pasang kaki dan seribu pasang mata, akan ku cari ilmu itu. Bahkan
sampai keakar-akar duniapun akan ku cari!. Begitulah ungkapan Salman yang
menyambung perkataan saudaranya itu.
Seperti itulah keinginan
kedua saudara kembar itu kepada dunia. Keinginan mereka yang begitu besar,
seakan tak melihat seperti apa keadaan hidupnya yang bisa dikatakan
golongan menengah ke bawa. Tuhan pun telah mengatakan, siapa yang bersungguh-sungguh dan memiliki kemauan yang tinggi,
pastilah ada jalan baginya. Dan tidak memandang dari golongan mana dia
berasal.”
Ketika malam tiba. Rahman dan
Salman menghampiri kedua orang tuanya yang tengah asik duduk di serambi depan
rumah sambil menikmati secangkir teh dan sepiring kue. Mereka berdua berniat
untuk mengungkapkan niat dalam hati yang kini menjadi cita-cita dan harapan
mereka di masa depan. Setelah selesai mengungkapkan semua hal itu, ibu dan
ayahnya pun berfikir keras dan akan berusaha untuk mendapatkan biaya agar
anak-anak tersayangnya itu dapat meraih semua impianya, dengan mencari pinjaman
ke sana kemari untuk biaya transportasi mereka untuk pergi kuliah di tempat
yang mereka inginkan.
''Ayah..ibu, tiada kata
yang pantas kami ucapkan selain terimakasih yang
setulus- tulusnya dari lubuk hati kami yang paling
dalam.” Ujar kedua anak itu sambil bersimpu di hadapan kedua orang tuanya.
''Iya anak-anak ku.”
jawab sang ibu sambil meneteskan air mata, sambil memandang
lurus ke arah dua buah hatinya itu.
“Dengarlah
wahai anak-anak ku, sesungguhnya tidak ada orang tua yang tidak pernah sayang
kepada anaknya. Apapun akan kami lakukan untuk kalian, selagi tuhan memberikan
kemampun dalam diri kami.” Begitulah
tutur sang ibu kepada anak-anak tercintanya itu dengan penuh kelembutan dan
kasih sayang.
Dengan
segalah daya dan upayah akhirnya mereka diberikan rezeki oleh Allah swt. Pada
hari yang telah ditentukan, maka berangkatlah mereka berdua meninggalkan
kampung halaman yang penuh dengan kedamaian itu, menuju kota bima yang di mana
menjadi tempat mereka memulai perjalanannya. Di sudut Terminal Dara kota bima
itu terlihatlah isak tangis diantara oang tua dan anak, seolah tak sanggup
menepis air mata perpisahan.
''Anak-anak ku, jadilah
manusia yang berguna untuk orang lain yang membutuhkan kalian nanti. Dan jangan
lupa ingat kepada sang Ilahi dalam setiap kalian melangkah.” Itulah pesan terakhir dari sang ayah sambil
memegang pundak mereka.
Maka berangkatlah mereka setelah
mencium tangan ayah dan ibundanya. Mereka berangkat dengan bus yang berbeda,
yang satu ke Jogja dan satunya lagi menuju Surabaya.
⃰ ⃰ ⃰
Perjalanan hidup mereka penuh dengan perjuangan
layaknya seorang pahlawan yang berjuang demi kedamaian dunia. inilah yang
terjadi dalam kehidupan keduan insan yang tidak pernah gentar menghadapi
derasanya badai kehidupan yang mungkin saja bisa membawa merka kedalam jurang
kegagalan. Rahman dan salman pun sudah menjalalni perkuliahan hampir dua
tahun. Namun demikian, biaya untuk pembayaran SPP mereka sangatlah mahal, belum
lagi biaya untuk kebutuhan sehari - harinya. Di sisi lain, orang tua mereka di
kampung sudah tidak sanggup lagi untuk mencukupi dan membiayai semua kebutuhan
mereka.
"Ya allah apa yang harus hamba
lakukan?” Ujar rahman sambil bersandar
di dinding kamar kostnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Apakah aku harus pulang ke tempat asalku dan
meninggalkan semua ini?, tidak-tidak! kenapa aku harus menyerah.” Akhirnya ia
memejamkan mata dan mulai untuk berpikir apa yang harus dilakukanya. Dan
tiba-tiba ia terbangun dari lamunanya itu seraya berkata
“ Yes itu dia!” Sontak
ia bangun dari keterpurukkannya itu.
“Akhirnya aku dapat ide untuk
semua ini.” Ia melangkah menuju lemari
yang ada di sebelah barat kamarnya itu, dan mengambil sebuah buku kecil dan
pena.
“Ini dia. Aku akan mulai menulis
lagi, betapa bodohnya diriku, seorang mahasiswa jurusan bahasa dan sastra
Indonesia seperti aku ini seharusnya sadar dari awal.”
“Baiklah,
mungkin ini akan menjadi sumber penghasilanku”. Akhirnya ia mulai merangkai
kata demi kata, sajak-sajak indah pun tertuang dalam semua karyanya. Semua
karyanya itu ia kirim ke salah satu media cetak yang ada di Jogjakarta, dan
alhamdulullah sebagian besar tulisannya dimuat. Berangkat dari situlah akhirnya
Rahman dapat memperoleh biaya untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya
kuliahnya.
Langit Surabaya
Terlihat seorang mahasiswa yang sedang
mencoret-coret tembok di tepian jalan raya dengan pikiran yang melayang entah
ke mana di bawah teriknya matahari. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh
seorang mahasiswa jurusan seni rupa ini.
“Ya rabbi inilah aku, hambamu
yang tidak sanggup lagi berbuat apa-apa. Hanya coretan tak bermakna ini yang
dapat aku kerjakan. Hamba tidak ingin melihat mereka susah, hamba tidak ingin
melihat mereka sebagai budak yang harus mencari sesuap nasi hanya
untuk menyenangkan hati hamba. Lebih baik hamba yang kalah daripada
harus menyusahkan mereka”. Begitulah rintihan hati yang lahir dari dalam diri
salman.
⃰ ⃰ ⃰
Rahman dan Salaman hampir saja mengalami
kegagalan dalam menempuh perkuliahan, dikarenakan orang tunanya tidak sanggup
lagi membiayai kuliah mereka, karena semua harta benda yang dimiliki sudah
habis terjual. Akan tetapi rahman yang memiliki kemampuan di bidang
menulis akhirnya mencoba mengembangkan ,dan alhamdulillah semua karya tulisnya
disukai oleh semua semua kalangan yang telah membaca tulisanya itu, sehingga ia
mendapatkan tawaran pekerjaan di salahasatu media yang ada di jogjakarta. dan
akhirnya ia menyelesaiakan studinya sampai ke jenjang S2, yang sekarang
bergelar Muhammad Rahman, M.Pd. dan sekarang sudah menjadi dosen di salah satu
universitas yang ada di Yogyakarta.
Sedangakan Salaman yang memiliki keahlian
di bidang melukis, membuka usaha yang dimana menjadi tempat untuk orang yang
mau belajar lukis, dan alhamdulillah usahanya itu berjalan dengan baik,
sehingga ia dapat menyelesaiakan kuliahnya ke jenjang S2 pula seperti kakaknya
rahman. Dan iapu ikut menjadi dosen di salah satu universitas yang ada di
Surabaya. Mendengar kabar keberhasilan kedua anak-anaknya ibu Asmah dan pak Muhidin
merasa bahagia, sehingga tak kuasa menahan air mata haru yang membanjiri
pipinya.